Kisah Pemulung yang Bersedekah Setiap Sore bersama Putrinya


Kisah inspiratif datang dari pemulung asal Kota Baubau, Ibu Anisa berusia 50 tahun. Meskipun pendapatannya sebagai pemulung tidak seberapa, tapi selama dua tahun beliau selalu bersedekah ke masjid. Sosok sederhana yang tak lupa bersedekah di tengah kekurangannya ini patut mendapatkan berkah asuransi wakaf dari Allianz.

Tinggal di Rumah Gubuk Kecil


Untuk bisa memberi, kita tidak perlu menunggu kaya. Hal inilah yang diajarkan oleh bu Anisa. Suaminya yang bernama La Jauli bekerja sebagai penambang pasir di sungai yang hasilnya tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Bu Anisa bersama keluarga pun hidup dalam kekurangan di Kelurahan Bataraguru, Kecamatan Wolio. 

Mereka pun tinggal di rumah gubuk berukuran 3x4 meter di lahan orang lain. Bisa dibayangkan sendiri, rumah sekecil itu ditinggali oleh Ibu Anisa, sang suami dan ketujuh anaknya. Untuk meringankan beban sang suami, bu Anisa pun tidak tinggal diam. Beliau rela menjadi pemulung agar bisa membangun rumah sendiri.

Pendapatan yang Tidak Menentu


Bu Anisa mulai berangkat dari pukul 10.30 WITA dan berkeliling kota Baubau sekitar 10-15 Km. Beliau biasanya memulung barang, seperti kardus, plastik, kertas, dan barang lain yang bisa didaur ulang. Beliau baru pulang ke rumah sekitar pukul 19.00 WITA. Meskipun bekerja sampai petang, pendapatannya pun tak menentu.


Penghasilan yang biasa didapatkan, mulai dari Rp50.000 sampai Rp100.000 yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membayar biaya sekolah dua anaknya yang masih SD dan SMP. Tak lupa bu Anisa juga menyisihkan penghasilannya untuk bersedekah ke masjid. 

Pengidap Penyakit Ginjal dan Gula


Kondisi ekonomi yang masih kurang menjadi lebih memprihatinkan dikala bu Anisa mengidap penyakit ginjal dan gula selama dua tahun terakhir ini. Awalnya, beliau memeriksakan diri ke rumah sakit Palagitma dan kemudian dirujuk langsung ke rumah sakit Siloam. 

Sayangnya, bu Anisa tidak bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit karena pihak rumah sakit mengatakan jika tidak ada lagi ranjang kosong untuk pasien. Akhirnya, bu Anisa pun hanya menjalani rawat jalan untuk penyakitnya yang terbilang tidak ringan. 

Kekurangan Biaya Pengobatan hingga Gadaikan Sertifikat Tanah


Biaya pengobatan yang harus dikeluarkan bu Anisa tidaklah sedikit, terlebih dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi ini membuat bu Anisa terpaksa menggadaikan sertifikat tanah satu-satunya yang dimiliki. Itupun masih kurang sehingga beliau terpaksa meminjam orang tua dan mertuanya sebesar 5 juta. 

Hutang-hutang untuk biaya pengobatan inilah yang menjadi salah satu pendorong bagi bu Anisa untuk bekerja agar bisa melunasi hutangnya. Beliau juga memiliki harapan memiliki rumah sendiri sehingga tidak menyusahkan orang lain dengan tinggal di lahan orang tersebut.

Kebiasaan Bersedekah di Tengah Kekurangannya


Kondisi ekonomi yang masih kurang tidak lantas membuat bu Anisa menutup mata untuk bersedekah. Beliau bahkan secara rutin mengunjungi Masjid Asbaabussalam Bataraguru untuk memasukkan uang sedekah ke dalam kotak amal di samping pintu masjid. Hal inilah yang bisa menjadi inspirasi bagi kita yang sudah berkecukupan. 

Tak Ketinggalan, beliau juga mengajarkan kebiasaan mulia ini pada sang putri dengan mengajaknya ketika bersedekah ke masjid. Bu Anisa ingin mengajarkan kepada putrinya bahwa kekurangan tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berbagi atau bersedekah. 

Tak salah rasanya jika sosok bu Anisa ini mendapatkan asuransi wakaf dari Allianz. Dana yang diberikan tentunya akan bermanfaat untuk kehidupan bu Anisa dan keluarga. Anda pun bisa mendapatkan keberkahan dari kebaikan yang Anda lakukan dengan mengikuti program ini.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Pemulung yang Bersedekah Setiap Sore bersama Putrinya"

Post a Comment